Kesadaran Kritis yang Bobrok dan Jual Beli Agama

Kesadaran Kritis yang Bobrok dan Jual Beli Agama

Kesadaran Kritis yang Bobrok dan Jual Beli Agama

Ayu Bagaoesoekawati | Jan 15, 2018 | Human Rights
Dalam berbagai percakapan antara orang yang telah “tercerahkan” dan orang konservatif, dalam lintas isu, mereka sering sekali beradu agrumen dan tidak sedikit pula yang berujung dengan perdebatan sengit nan emosional serta menguras energi. Apa sebenarnya krisis yang kita alami saat ini adalah sebuah warisan sejarah kelam dari masa lalu?

Bagi sebagian dari kita, kesadaran kritis merupakan anugerah yang telah diberikan sang alam. Banyak juga yang beranggapan bahwa kesadaran kritis adalah sebuah krisis yang akan melanda jalan hidup kita untuk ke depannya, terutama dalam hal cara pandang terhadap suatu isu. Acap kali kita membahasakan diri kita yang telah sadar akan kesadaran kritis sebagai orang yang telah “tercerahkan”, sedangkan mereka yang belum adalah seorang “normies” atau “normatif”. Keadaan orang-orang “normies” atau “normatif” ini diperburuk oleh doktrin-doktrin politisasi agama yang menjadikan mereka menjadi seorang yang konservatif. Mereka sebenarnya adalah korban-korban dari pembodohan yang dilakukan secara struktural dan sistematis–sebuah kelanggengan kekuasaan politik yang mutlak guna mengontrol semua lapisan masyarakatnya agar tunduk patuh.

Dalam berbagai percakapan antara orang yang telah “tercerahkan” dan orang konservatif, dalam lintas isu, mereka sering sekali beradu agrumen dan tidak sedikit pula yang berujung dengan perdebatan sengit nan emosional serta menguras energi. Apa sebenarnya krisis yang kita alami saat ini adalah sebuah warisan sejarah kelam dari masa lalu? Kita mengenal masa orde baru, dimana semua orang dibuat bungkam oleh kepemimpinan yang diktator, nyawa manusia sangat “murah” untuk dihilangkan, dan juga suara-suara kritis dibuatnya senyap. Bahkan sampai saat ini kuatnya pengaruh gaya kepemimpinan orde baru masih bisa kita rasakan. Gaya kepemimpinan orde baru berkawin dengan politisasi agama, membuat tatanan masyarakat sekarang ini semakin kacau. Pembodohan secara struktural, sistematis, dan masif dilakukan di semua wilayah Indonesia. Hal ini mengakibatkan orang-orang melihat suatu hal hanya dengan satu kacamata saja, yaitu kacamata agama. Apapun permasalahan dan isunya, agamalah solusinya. Begitulah kira-kira kebanyakan cara pandang orang sekarang ini.

Kebhinekaan yang telah dibangun oleh bangsa ini telah rapuh dimakan politik busuk berbalut agama dan iming-iming wangi surgawi. Bagi sebagian dari kita orang yang telah “tercerahkan” akan beranggapan bahwa berhadapan dengan orang-orang konservatif tentu akan menguras energi karena sifatnya yang toksik serta bisa menimbulkan anxiety. Sangat reaksioner dan meledak-ledak emosinya, begitulah kiranya penggambaran yang kerap ditujukan kepada kita oleh orang-orang konservatif. Ini merupakan sebuah tantangan bagi kita sebagai “agent of change” untuk mengubah tatanan masyarakat yang lebih baik, adil, serta berwawasan luas.

Bukankah kebanyakan dari kita juga pernah berada di titik proses “bertanya, mencari, menolak, berpikir, dan sampai akhirnya menerima semua percerahan dan mengakui bahwa perubahan mutlak adanya”? Mungkin tidak sedikit dari kita juga pernah menjadi seorang yang sangat konservatif. Bukankah kita juga sadar bahwa ini semua terjadi karena konstruksi sosial yang ada, cara didik orang tua kita di rumah, dan bahkan guru-guru di sekolah tempat kita mencari ilmu? Pepatah Jawa menyebutkan “alon-alon asal kelakon” yang artinya “pelan-pelan asalkan terlaksana” dan ada juga peribahasa yang mengatakan “tetesan air yang lembut, perlahan tapi pasti dapat membelah batu jua”. Dua ungkapan tersebut saya rasa cukup sebagai motivasi kita untuk bertindak lebih tenang dan bijak namun tetap tegas untuk menghadapi orang-orang tersebut. Jadi bukankah kita sudah bekerja keras dan berpikir keras untuk sampai akhirnya berada di titik sekarang ini? Maka dari itulah kita jangan sia-siakan semua proses yang telah kita lalui dan kesempatan-kesempatan yang kita dapatkan untuk mengubah tatanan masyarakat yang lebih baik, adil, serta sejahtera.

Semua berasal dari cara kita mengolah pola pikir dalam menghadapi semua permasalahan yang ada dalam berbagai isu yang berbeda. Cara kita berargumen dan menggiring pendapat massa untuk bisa lebih berpikiran secara luas serta terhadap orang-orang konservatif agar mereka terbiasa mendengar, menerima kritik, terus berpikir dan berproses ke arah yang lebih baik dan menuju keadilan yang setara.

***

Konten ini ditulis oleh Ayu Bagaoesoekawatie. Ia adalah seorang queer (gender fluid) yang hanya lulusan SMP dan sangat beruntung bisa mendapatkan ijazah paket C setara SMA di PKBM Anak Bangsa Pondok Pinang, Jaksel. Ia berhasil menempuh 2 semester di Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang. Selain aktif di GSHR Udayana, ia juga aktif sebagai pengurus di Yayasan Jaringan Rakyat Bhinneka. Temukan ia di Facebook, Twitter, dan Instagram.

 

LGBT dalam Kemanusiaan

LGBT dalam Kemanusiaan

LGBT dalam Kemanusiaan

Ayudiah Natalia | Dec 26, 2017 | Human Rights
Beberapa tahun belakangan ini, LGBT menjadi isu yang masif di Indonesia dan berbagai belahan di dunia. Sejak dilegalkannya pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat, aktivis sosial dan komunitas LGBT di Indonesia semakin bersuara dalam mengadakan kampanye, edukasi melalui media sosial, serta diikuti dengan berdirinya beberapa komunitas yang berfokus tentang edukasi gender dan seksualitas.

Jika ditelisik dari sejarahnya, eksistensi LGBT bukanlah hal yang baru dan tabu. Dalam mitologi India, diceritakan bahwa seorang Dewa Perang, Kartikeya, lahir dari sperma Dewa Agni dan Dewa Siwa. Ada beberapa cerita yang menggambarkan cinta antara sesama jenis kelamin terutama di kalangan raja dan ratu. Penggambaran tentang hubungan seksual sesama jenis di kuil juga pernah ditemui, contohnya di Khajuraho. Bahkan, beberapa bangsawan Mughal, kaisar, dan penguasa Muslim di Asia Selatan diketahui memiliki kecenderungan homoseksual. Selain itu, di Asia Selatan, Hijra (suatu kelompok gender ketiga atau transgender) diakui dan diterima dengan baik keberadaannya.

Begitu banyak mitologi yang bertema LGBT di berbagai belahan dunia dan zaman, dari Yunani Kuno hingga Nusantara. Salah satu contoh keberagaman gender di Indonesia dapat ditemui pada kepercayaan tradisional Bugis yang mengakui adanya 5 gender, yaitu: “oroane” (laki-laki); “makunrai” (perempuan); “calalai” (perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki); “calabai” (laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan); dan golongan bissu, dimana masyarakat kepercayaan tradisional menganggap seorang bissu sebagai kombinasi dari semua jenis kelamin tersebut.

Foto oleh The Conversation.

Mereka memiliki peran masing-masing di dalam masyarakat. Bissu dianggap sebagai figur spiritual vital yang menghubungkan manusia dengan dewa. Karena itulah, bissu merupakan kombinasi dari dua gender–atau dapat dikatakan bergender netral. Sedangkan, calalai adalah seseorang dengan tubuh biologis perempuan namun mengambil peran dan fungsi laki-laki, tinggal bersama istri dan anak-anak yang diadopsi, memiliki pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh laki-laki, dan berpenampilan seperti laki-laki. Calabai adalah seseorang dengan tubuh biologis laki-laki namun mengambil peran dan fungsi perempuan, seperti bertanggung jawab dalam mengatur pesta pernikahan.

Begitu cairnya relasi gender Suku Bugis di Sulawesi Selatan merupakan contoh sangat dekatnya kehadiran LGBT dalam kehidupan kita sebagai masyarakat Indonesia. Suku Bugis begitu selaras dalam keberagaman. Tidak perlu jauh-jauh menyelisik sejarah dan mitologi, eksistensi calalai, calabai, dan bissu merupakan bentuk nyata bahwa kebudayaan kuno nusantara mengakui dan menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat yang tetap memiliki hak dan perannya masing-masing.

Identitas LGBT dan Kemanusiaan

Beberapa tahun belakangan ini, LGBT menjadi isu yang masif di Indonesia dan berbagai belahan di dunia. Sejak dilegalkannya pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat, aktivis sosial dan komunitas LGBT di Indonesia semakin bersuara dalam mengadakan kampanye, edukasi melalui media sosial, serta diikuti dengan berdirinya beberapa komunitas yang berfokus tentang edukasi gender dan seksualitas. Dilansir dari Daily Mail, ketika negara lain di Asia membuat kemajuan dalam hak-hak LGBT, penolakan dan diskriminasi terhadap LGBT di Indonesia justru semakin parah, bahkan mendapat dukungan oleh pemerintah.

Pada umumnya, manusia takut akan hal yang ia tidak pahami dan berada di luar kontrolnya. LGBT sering kali dianggap sebagai ancaman bagi masyarakat. Ketakutan ini dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan. Sebenarnya, ketidaktahuan dapat diatasi dengan mencari informasi, pengetahuan, dan pemahaman terkait dengan isu ini. Namun, tidak banyak masyarakat yang ingin melakukan hal itu dengan komprehensif. Hal ini juga diperparah dengan banyaknya informasi yang misleading mengenai LGBT.

Komunitas LGBT tidak pernah lepas dari stigma yang ada pada masyarakat. Komentar negatif tentang LGBT juga pernah disampaikan oleh seorang Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. Ia secara implisit mengatakan bahwa komunitas LGBT lebih berbahaya dibanding ancaman perang nuklir. Sebetulnya, apakah mereka mereka pantas diberlakukan sedemikian hina hanya karena mereka menuntut kebebasan dan hak? Ini merupakan kondisi yang berbanding terbalik dengan Suku Bugis–yang dapat mengakui dan menerima keberagaman gender di masyarakat mereka sejak dahulu kala. Jika begini, bukankah sekarang kita mengalami kemunduran dalam moralitas dan kemanusiaan?

Pemisahan identitas antara “kita” dengan “mereka” masih sangat tinggi terjadi dalam masyarakat Indonesia. Wacana “tidak normal” dan “tidak bermoral” sering dilabelkan kepada komunitas LGBT. Menurut Amartya Sen, dalam bukunya yang berjudul “Kekerasan dan Identitas”, ada dua kesalahan mendasar yang kerap dilakukan manusia dengan identitasnya, yaitu (1) persepsi bahwa identitas tunggal yang mereduksi beragam jenis identitas yang tersemat dalam diri manusia; dan (2) persepsi bahwa identitas adalah kodrat lahiriah dan temuan, meski kenyataanya adalah pilihan. Identitas itu bersifat fleksibel dan dapat diprioritaskan bergantung pada situasi sosial dan pilihan kita. Contohnya adalah seorang transgender yang secara bersamaan juga memiliki identitas sebagai seorang yang relijius dan aktif dalam komunitas agamanya. Tapi, yang terjadi dalam masyarakat kita selama ini adalah ketika kita hanya berfokus pada suatu “identitas” tunggal seseorang LGBT dan tidak mengindahkan identitas-identitas lain yang mungkin saja memiliki kesamaan dengan identitas yang kita anut.

Toleransi tidak akan tercapai ketika seseorang hanya berfokus pada perbedaan dan menganggap bahwa perbedaan adalah sebuah ancaman bagi keberlangsungan komunitasnya. Sangat naif ketika kita menganggap orang yang menganut kepercayaan yang sama atau berpenampilan serupa, pasti seragam dalam segala hal. Semua manusia diciptakan dengan keunikannya masing-masing, begitupun dengan LGBT. Mendiskreditkan dan mengintimidasi mereka hanya karena menganggap mereka “berbeda” dengan kita merupakan bentuk penyempitan identitas.

Dalam berbagai kekacauan yang terjadi akibat konflik identitas di negara kita, sudah saatnya kita mengubah cara berbahasa kita, yaitu dengan bahasa kemanusiaan. Semua orang memiliki berbagai pendapat mengenai komunitas LGBT dan itu merupakan hal yang sah. Namun, hanya karena seseorang memiliki identitas gender dan orientasi seksual yang berbeda, bukan berarti ia tidak memiliki hak untuk hidup, bersuara, dan berekspresi dengan aman dan nyaman di negara ini.

***

Catatan Kaki

Lamb, Kate. (2006). Why LGBT hatred suddenly spiked in Indonesia. Diakses dari https://www.theguardian.com/global-development-professionals-network/2017/feb/22/why-lgbt-hatred-suddenly-spiked-in-indonesia pada tanggal 25 Desember 2017.

Rana, Fairuz. (2016). Selain Laki-laki dan Perempuan, Ada Gender Lain di Suku Bugis. Diakses dari https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/12/09/selain-laki-laki-dan-perempuan-ada-gender-lain-di-suku-bugis pada tanggal 25 Desember 2017.

Sen, Amartya. (2017). Kekerasan dan Identitas. Jakarta: Marjin Kiri.

Steve, Martin. (2017). Mengenal Motif LGBT dalam Mitologi Kuno. Diakses dari http://www.martinrecords.com/history/mengenal-motif-lgbt-dalam-mitologi-kuno/ pada tanggal 25 Desember 2017.

***

Konten ini ditulis oleh Ayudiah Natalia. Ia adalah seorang mahasiswi yang sedang menempuh studi S-1 Ilmu Komunikasi, aktif berkomunitas, pencari kebenaran sejati, serta penyuka konser dan meditasi. Berbicara dalam bahasa cinta dan kemanusiaan. Ia dapat ditemukan di Instagram dan Facebook.