Apa yang Salah dengan Maskulinitas Hari Ini?

Apa yang Salah dengan Maskulinitas Hari Ini?

Rickdy Vanduwin | Jun 25, 2019 | Gender
Dalam masyarakat patriarki, jika diamati di permukaan, jelas sekali terlihat opresi-opresi yang dirasakan oleh perempuan dalam kesehariannya. Akses perempuan terhadap pilihan-pilihan yang ada menjadi sangat terbatas dan menjadikan perempuan terperangkap di dalam ruang yang gelap. Namun bagaimana dengan laki-laki?

Januari lalu, Gillette merilis iklan yang diberi judul “We Believe: The Best Man Can Be” di kanal Youtube resminya. Di dalam iklan tersebut, Gillette menyoroti isu #MeToo dan kondisi masyarakat yang sering menormalisasi perilaku agresif dan kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki dan menjustifikasinya sebagai perilaku yang datang dari sifat alami laki-laki. Per tanggal artikel ini ditulis, iklan tersebut sudah ditonton sebanyak lebih dari 30 juta kali dan tidak disukai oleh 1,4 juta pengguna. Reaksi dan komentar yang didapat dari ‘kampanye’ tersebut pun beragam; ada yang tersinggung dan ada yang menilai hal tersebut merupakan langkah berani untuk mengkritik maskulinitas toksik laki-laki saat ini. Kira-kira apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa banyak respons negatif dilontarkan kepada iklan ini? Benarkah maskulinitas laki-laki hari ini sudah sangat rapuh?

Dalam masyarakat patriarki, jika diamati di permukaan, jelas sekali terlihat opresi-opresi yang dirasakan oleh perempuan dalam kesehariannya. Akses perempuan terhadap pilihan-pilihan yang ada menjadi sangat terbatas dan menjadikan perempuan terperangkap di dalam ruang yang gelap. Namun bagaimana dengan laki-laki? Apakah betul dengan segala privilege yang dipangku oleh laki-laki, lantas mereka ‘diuntungkan’ dalam seluruh aspek?

Laki-laki secara hierarki politik dan sosial memang duduk di posisi yang tinggi. Namun sayangnya, dengan segala sifat dan stereotip yang diasosiasikan kepada laki-laki, laki-laki dituntut berlaku sesuai dengan standar yang cukup toksik dan mengkhawatirkan. Sifat kuat, dominan dan rasional yang ditempelkan pada ciri maskulin ternyata berdampak buruk bagi kesehatan mental laki-laki. Misalnya, laki-laki dinilai tidak maskulin jika ia menangis; karena ia dianggap tidak kuat dan berpikir irasional. Padahal, menangis merupakan bagian alami dari manusia dan tidak ada yang salah dari hal itu.

Manifestasi maskulinitas hari ini semakin beragam dan kian memaksa laki-laki untuk pantas duduk pada standar yang telah terkonstruksi. Ada dua pilihan yang harus dipilih laki-laki terkait dengan standar-standar tersebut, yaitu duduk manis di atas standar tersebut atau mendapatkan sanksi sosial karena tak berhasil bersandar pada standar-standar yang ada. Shannon dalam artikelnya, Feminism and Mental Health yang dirilis melalui situs Kelty Mental Health Resource Centre, menyatakan bahwa laki-laki memiliki isu kesehatan mental yang mengkhawatirkan. Di kehidupan sosio-kultural yang patriarkis, laki-laki diajarkan untuk tidak menunjukkan sisi emosinya. Hal ini dibuktikan dengan pengasosiasian masyarakat terhadap ekspresi emosi sebagai kelemahan atau bagian dari femininitas dan tidak seharusnya dimiliki oleh laki-laki. Meskipun perempuan lebih banyak didiagnosis depresi, justru angka bunuh diri pada laki-laki masih lebih tinggi karena keengganannya mencari bantuan profesional. Laki-laki juga memiliki tendensi tinggi menyalahgunakan zat berbahaya; karena merehatkan diri dengan alkohol atau obat-obatan lainnya dinilai lebih diterima secara sosial daripada mencari bantuan profesional.

Feminisme bagi Kesehatan Mental Laki-laki

Disadur dari American Psychological Association (2019), maskulinitas toksik atau maskulinitas tradisional ditandai dengan perilaku menahan emosi atau menyembunyikan kesulitan dan menganggap kekerasan sebagai indikator kekuatan. Maskulinitas toksik hadir dan terlegitimasi dalam budaya patriarki yang masih membagi peran gender secara biner. Dalam kondisi tersebut, kebanyakan laki-laki secara tidak sadar berpacu pada peran gender tradisional; laki-laki harus dominan, kuat, independen, dan tidak emosional. Oleh sebab itu, ketika laki-laki memiliki masalah, mereka lebih memilih untuk menumpuk bebannya sendiri daripada bercerita kepada orang di sekitarnya atau konselor profesional. Hal tersebut menjadi mengkhawatirkan karena beban tersebut dapat termanifestasi menjadi kemarahan, perilaku agresif, penyalahgunaan zat, dan gangguan kepribadian antisosial.

Untuk menyelesaikan isu kesehatan mental seperti ini, perspektif feminis sangat dibutuhkan untuk menjadi alat analisis yang struktural. Penting untuk diketahui bahwa feminisme bukan hanya berusaha untuk menguntungkan perempuan, namun feminisme memberikan gambaran yang lebih jelas bagaimana patriarki mengekspektasikan gender dan perannya menjadi biner, yaitu laki-laki dan perempuan. Baik pasien dan penyedia layanan kesehatan mental diharapkan mempertimbangkan bagaimana ketidaksetaraan gender memengaruhi kesehatan mental masing-masing gender. Melalui feminisme, laki-laki secara perlahan dapat menghapuskan stereotip yang ada di masyarakat, sehingga laki-laki dapat mengakses bantuan psikologis maupun sosial tanpa harus merasa tidak maskulin. Dalam konteks yang lebih luas, feminisme juga dapat merekonstruksi standar maskulinitas tradisional dengan menyediakan pilihan-pilihan alternatif selain pilihan arus utama yang ada, seperti laki-laki tidak harus menikah jika kondisi finansial dan psikologisnya belum siap atau laki-laki dapat mengurus pekerjaan domestik jika diinginkan. Saat ini, maskulinitas perlu untuk direkonstruksi menjadi lebih fleksibel, tidak kaku dan tidak mudah rapuh. Ajarkan dirimu, teman laki-lakimu dan anak laki-lakimu untuk lepas dari standar maskulin tradisional yang membahayakan.

Menjadi rentan bukanlah hal yang buruk maupun memalukan. Mengakui kerentanan diri bukan berarti menunjukkan kelemahan, namun berarti menerima kenyataan bahwa manusia tidak lepas dari kekurangan. Menerima kerentanan diri dapat meringankan permasalahan dan beban yang dipikul selama ini. Laki-laki boleh gagal, ragu, mengalami ketakutan dan patah hati, menangis, dan tidak ada yang salah dari hal itu. Mengabaikan dan menekan perasaan yang laki-laki miliki bukan hanya tidak baik untuk kesehatan mental, namun menghambat proses perkembangannya menjadi manusia yang lebih baik.

***

Catatan Kaki

Jackson, D. A. & King, A. R. (2004). Gender differences in the effects of oppositional behavior on teacher ratings of ADHD symptoms. J Abnorm Child Psychol, 32(2):215-24.

Kessler, R. C. & Wang, P. S. (2008). The descriptive epidemiology of commonly occurring mental disorders in the United States. Annu Rev Public Health, 29:115-29.

Merikangas, K. R., He, J. P., Burstein, M., dkk. (2010). Lifetime prevalence of mental disorders in U.S. adolescents: results from the National Comorbidity Survey Replication–Adolescent Supplement (NCS-A). J Am Acad Child Adolesc Psychiatry, 49(10):980-9.

Simon, R. W. (2007). Contributions of the sociology of mental health for understanding the social antecedents, social regulation, and social distribution of emotion. Mental Health, Social Mirror, pp. 239-274. New York: Springer.

***

Konten ini ditulis oleh Rickdy Vanduwin. Ia adalah seorang penulis dan ketua Resource Center on Gender, Sexuality and Human Rights Studies Udayana (GSHR Udayana). Ketika tidak menulis, ia menghabiskan waktunya membuat kolase digital dan menonton film. Temukan ia di sini.

Sistem Patriarki: Siapa yang Dirugikan?

Sistem Patriarki: Siapa yang Dirugikan?

Hani | Jan 22, 2018 | Gender
Sistem patriarki membuat lelaki seakan-akan seperti pahlawan super yang terlihat kuat dan menolong pihak yang lemah. Namun, apakah laki-laki menikmati “hak istimewa” yang mereka dapatkan dari sistem patriarki?

The systematic domination of women by men and domination of men by other men.” — Chapman J. mendefinisikan patriarki.

Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang berbunyi “swargo nunut, neraka katut” dan secara literal dapat diartikan menjadi “ke surga mengikuti, ke neraka pun terbawa”. Ungkapan tersebut dianggap oleh kebanyakan orang sebagai pengingat bahwa kedudukan suami dalam rumah tangga lebih tinggi dari istri. Karenanya apapun yang dilakukan oleh suami, istri secara otomatis harus mengikuti. Dalam hal ini posisi perempuan hanyalah sebagai subordinasi dari kaum lelaki. Penempatan perempuan sebagai subordinasi dari laki-laki adalah salah satu bentuk ketidakadilan gender akibat pengaruh dari sistem patriarki, dan kemudian merugikan kaum perempuan karena muncul stigma-stigma yang membatasi mereka.

Menurut Barfield dalam Kruger (2014), patriarki melambangkan sebuah sistem sosial dimana garis keturunan berasal dari pihak bapak. Dalam sistem patriarki, laki-laki berada pada posisi yang lebih menguntungkan dan cenderung “berkuasa” terhadap perempuan (Pranowo, 2004). Dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa lelaki lebih leluasa berekspresi dalam ruang publik, misalnya laki-laki cenderung lebih bebas keluar pada malam hari atau laki-laki tidak perlu mengkhawatirkan pakaian yang mereka kenakan akan mengundang omongan warga sekitar. Laki-laki dalam sistem patriarki juga dikenal sebagai sosok yang selalu kuat, pekerja keras karena umumnya menjadi tulang punggung keluarga, serta tak pernah terlihat lemah. Berbanding terbalik dengan sosok perempuan yang terlihat lemah dan tak berdaya tanpa adanya sokongan dari lelaki.

Perempuan yang hidup dalam sistem patriarki seringkali dianggap hanya sebagai pendamping laki-laki. Mereka yang dianggap tidak memiliki tenaga sebanding dengan laki-laki sering kali diremehkan, dan pada akhirnya perempuan hanya ditempatkan pada posisi di bawah derajat laki-laki. Perempuan juga diidentikkan dengan pekerjaan domestik seperti mengerjakan pekerjaan rumah tangga serta mengurus anak dan suami di rumah. Hal ini yang menimbulkan marjinalisasi terhadap perempuan sehingga mereka dirasa tidak mampu untuk berdiri sendiri.

Sistem patriarki membuat lelaki seakan-akan seperti pahlawan super yang terlihat kuat dan menolong pihak yang lemah. Namun, apakah laki-laki menikmati “hak istimewa” yang mereka dapatkan dari sistem patriarki?

Tingginya Jumlah Kematian (Mortalitas) Laki-Laki

Menurut studi yang dilakukan Stanistreet, Bambra dan Scott-Samuel (2005), tingginya tingkat patriarki berbanding lurus dengan tingginya mortalitas laki-laki. Studi lain yang dilakukan oleh Kruger, Fisher dan Wright dari University of Michigan (2014) juga menyebutkan hasil yang serupa, bahwa laki-laki yang hidup di lingkungan dengan tingkat patriarki tinggi memiliki mortalitas yang lebih tinggi dibanding mereka yang hidup di lingkungan dengan kesetaraan gender. Penelitian yang dilakukan Kruger dan kawan-kawan menggunakan data sosiodemografi dan mortalitas dari WHO (World Health Organization), United Nations, CIA World Factbook, dan The Encyclopedia of World Cultures.

Menurut mereka, patriarki mencerminkan tingkat kontrol laki-laki terhadap perempuan sebagai aset reproduksi. Selain itu patriarki juga membuat adanya tingkat persaingan antar laki-laki untuk mendapatkan posisi dan kekuasaan, yang secara historis dilakukan demi kesuksesan proses reproduksi dari laki-laki itu sendiri. Karena lelaki dengan kontrol serta status sosial lebih tinggi akan mendapat kesuksesan lebih dalam proses reproduksinya, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kontrol dan status sosialnya rendah. Kemudian untuk meraih dominasi secara sosial, laki-laki akan bersaing satu sama lain dan tidak jarang dengan cara yang berbahaya. Intensitas kompetisi antar laki-laki ini yang diprediksi mengakibatkan tingkat kematian laki-laki jadi lebih tinggi.

Menurut Smuts (1995), dibandingkan dengan primata lainnya manusia lebih menonjolkan lelaki dalam hal dominasi dan kontrol lelaki terhadap seksualitas perempuan. Hal ini tentu saja melukai pihak perempuan karena seksualitas adalah hal yang bersifat pribadi dan hanya diri sendiri yang berhak mengontrolnya. Motivasi laki-laki untuk memperoleh kekuasaan atas perempuan tidak hanya sebatas pertarungan antar laki-laki dan perempuan saja namun antar sesama laki-laki pula. Maka hal ini sesuai dengan penelitian Kruger dan kawan-kawan bahwa pertarungan atas dasar sistem patriarki hanya akan melukai kedua belah pihak. Ketika perempuan bersatu untuk memperoleh keadilan kaum mereka, apakah kaum laki-laki bersatu untuk menghentikan persaingan tersebut?

Dari masa ke masa, perempuan bersatu untuk memperoleh kesetaraan antar gender. Seperti gerakan perempuan di Amerika Serikat pada abad 19 yang memperjuangkan hak suara bagi perempuan dengan membentuk National Women Suffrage Association (NWSA), terbentuknya organisasi perempuan di Australia yaitu Woman’s Christian Temperance Union (WCTU) dengan tujuan serupa seperti NWSA yaitu memperjuangkan hak pilih perempuan. Di Indonesia, perempuan memiliki komisi khusus yaitu Kominisi Nasional Perempuan yang bertugas untuk melindungi dan menghapuskan kekerasan terhadap perempuan. Kemudian muncul pertanyaan, kenapa tidak ada lembaga yang melindungi laki-laki? Apakah karena laki-laki dianggap selalu kuat sehingga mampu melindungi dirinya sendiri?

Sistem patriarki memang secara langsung terbukti memiliki dampak buruk terhadap perempuan. Namun siapa sangka, laki-laki yang diposisikan sebagai pihak yang “berkuasa” ternyata juga mendapatkan dampak negatif. Dari sini terbukti bahwa melihat suatu fenomena dari satu sisi saja tidaklah cukup. Masih ada sisi-sisi lain yang harus dilihat dan dipelajari agar kita lebih bijak menilai suatu fenomena.

***

Catatan Kaki

Stanistreet, D., Bambra, C., & Scott-Samuel, A. (2005). Is Patriarchy the Source of Men’s Higher Mortality? Liverpool: J Epidemiol Community Health.

Kruger, D. J., Fisher, M. L., & Wright, P. (2014). Patriarchy, Male Competition, and Excess Male Mortality. Evolutionary Behavioral Sciences Vol. 8, No. 1, 3-11.

Pranowo. (2004). Pengkajian Dampak Marjinalisasi Terhadap Kaum Perempuan dalam Keluarga di Sampang, Madura. Jurnal PKS Vol. III, No. 9, 48-61.

Smuts, B. (1995). The Evulotionary Origins of Patriarchy. Human Nature Vol. 6, No. 1, 1-32.

***

Konten ini ditulis oleh Hani. Ia menyukai isu-isi perempuan dan ekonomi serta memiliki ketertarikan berlebih terhadap produk kosmetik lokal. Temukan ia di sini.

Menilik Proses Penerimaan Identitas Diri

Menilik Proses Penerimaan Identitas Diri

Anton Alem | Dec 29, 2017 | Gender
Masa-masa pubertas adalah masa-masa puncak timbulnya beragam penolakan terhadap stereotip mengenai apa yang harus dilakukan oleh laki-laki/perempuan atau malah menjadi timbulnya distres dengan kondisi paling parah adalah melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Dunia semakin berkembang dan penemuan yang dilakukan oleh manusia juga semakin bervariatif. Begitu pula dengan cara berpikir manusia yang menurut beberapa ahli, dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Akan tetapi tidak 100% semua karena lingkungannya mendukung untuk berpikir kritis, maka dia akan berpikir kritis. Begitu sebaliknya. Ada kondisi khusus atau yang biasa disebut anomali terjadi. Se-tidak-mendukung kondisi suatu manusia, ternyata adapula yang bisa berpikir kritis seperti halnya dengan yang lain. Hal ini menjadi sebuah patokan pula dalam penelitian ketika merumuskan batasan penelitian atau area penelitian yang diinginkan. Dan muncullah beragam teori dan analisis. Dari situ diperlukannya asosiasi atau organisasi yang merupakan gabungan dari peneliti seluruh dunia di bidang spesifik dibutuhkan.

Dalam tulisan ini, penulis akan membahas bagaimana proses seseorang menerima gender dan ekspresi mereka. Untuk definisi apa itu gender dan ekspresi, kalian dapat menemukannya di online search engine (namun sebaiknya carilah dari jurnal akademik untuk menghindari logical fallacy).

SOGIEB, sebuah akronim yang selalu dikumandangkan di puskesmas dewasa ini. Tetapi tidak semua orang paham bahwa hal itu ditujukan untuk membebaskan mereka dalam berekspresi dan memahami diri sendiri. Dengan adanya banyak sosialisasi SOGIEB ke beberapa tempat, diharapkan anak semakin bisa menerima segala perbedaan yang ada di dalam dirinya–yang walaupun sering dijadikan ajang untuk dokter-dokter menjelaskan bahwa penyuka sesama itu sangat berisiko menulari beragam penyakit tanpa diberi data lengkap dan malah menggiring ke arah yang salah.

Jenis kelamin (sex) yang merupakan bagian pertama yang biasanya lebih mudah untuk diterima karena sex sudah terbentuk sejak lahir dan terlihat dengan jelas–apakah dia laki-laki, perempuan, atau intersex. Yang susah adalah mengenai intersex. Kebanyakan orang tua akan memilih untuk apakah memutus penisnya atau menutup vaginanya dari si bayi agar jenis kelamin (sex) bayi tersebut jelas. Akan tetapi, ini justru membuat banyak anak yang lahir karena intersex sewaktu bayi dan orang tuanya yang menentukan jenis kelamin mereka, maka mereka sering merasa tidak sesuai dengan alat kelamin yang dimilikinya. Terjadilah krisis identitas dini. Lebih parah lagi, bila orang tua memilih anaknya menjadi laki-laki, dan ternyata ketika anak tersebut balita, alat kelaminnya tidak berkembang sempurna. Atau sebaliknya, bila orang tua memilih anaknya menjadi perempuan, ternyata anak tersebut merasa ada yang hilang dalam dirinya dan dia merasa laki-laki dan bukan perempuan.

Pada dasarnya ekspresi, identitas, dan orientasi gender terkadang tak bisa diterima secara bersamaan ataupun terpisah. Setelah anak mulai memahami dirinya secara fisik, maka mulailah dia menunjukkan identitas dirinya dalam sebuah perilaku, kesukaan terhadap orang lain (antara lawan jenis atau sesama jenis) walau hanya sebatas suka yang biasa orang sebut cinta monyet. Pasti hampir semua anak yang lahir pada tahun 90-an pernah merasakan cinta-cintaan ala masa SD. Karena seringnya anak mulai mempunyai sense of interest yang berbeda dibandingkan orang lain, orang tua sering melakukan pemaksaan untuk membuat anaknya dapat berperilaku dan berpakaian seperti anak pada umumnya. Kondisi seperti ini yang menjadikan anak kebingungan dan sering mempertanyakan pertanyaan “mengapa”.

Seiring berjalannya waktu, masa SMP dan SMA ada masa dimana anak mulai memperhatikan atau belajar dari sumber lain selain guru dan orang tuanya untuk menjawab pertanyaan “mengapa” mereka. Pertanyaan tersebut seperti “Mengapa aku suka permainan yang biasanya cewek lakukan?”, “Mengapa aku dilarang melakukan itu?”, “Mengapa cewek bermain ini dan cowok bermain itu dan tidak bisa bermain bersama?”, “Tetapi mengapa ada yang bermain bersama tanpa peduli orang lain?”, dan beragam pertanyaan lain seputar permainan, pakaian, dan idola masing-masing.

Bila anak tersebut mendapat akses atau berusaha sendiri untuk mencari tahu dengan benar mengenai orientasi gender dan identitas gender, maka anak tersebut mungkin bisa melakukan penerimaan diri atau yang biasa kita sebut coming in lebih awal. Akan tetapi bagi yang masih belum mendapat akses dengan mudah mengenai hal tersebut karena faktor lingkungannya atau doktrin yang dilakukan di rumah dan sekolah, bisa jadi dia akan berusaha memaksakan diri untuk sama seperti yang lain dan bila perlu ikut bullying teman yang berbeda dengan cowok atau cewek pada umumnya. Tidak menutup kemungkinan sexual harassment pun terjadi.

American Psychological Association (APA) sudah menyebutkan homoseksualitas dicabut dari Manual Statistik dan Diagnostik Penyakit Mental (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder atau DSM) sejak 1973 dan bahkan di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) PBB pada 17 Mei 1990 juga mengambil keputusan yang sama. Akan tetapi sepertinya banyak yang menolak hal tersebut walau sudah ada bukti penelitian yang jelas dan diakui oleh seluruh dunia bahwa homoseksualitas bukan berasal dari pengaruh sosial atau lingkungan sosial yang terbentuk ketika remaja. Hal ini mempengaruhi tindakan terapi perubahan orientasi seksual yang biasa kita sebut terapi konversi atau menurut APA disebut sebagai sexual orientation change efforts (SOCE). Di dalam penjelasan rangkuman penelitian (research summary) oleh Anton (2010), terdapat keterangan bahwa Belief in the hope of sexual orientation change followed by the failure of the treatment was identified as a significant cause of distress and negative self-image (Beckstead & Morrow, 2004; Shidlo & Schroeder, 2002). Di sini dijelaskan bahwa merubah orientasi seksual dapat menyebabkan distres dan menganggap diri sendiri selalu negatif. Distress adalah sebuah hasil dari stres yang hasilnya negatif atau dia mengalami tertekan terhadap kondisi yang harus dia hadapi dan lakukan. Apalagi distres yang dia hadapi terjadi di hampir setiap waktu dan setiap tempat mengingat dia harus act like straight di depan orang lain.

Masa-masa pubertas adalah masa-masa puncak timbulnya beragam penolakan terhadap stereotip mengenai apa yang harus dilakukan oleh laki-laki/perempuan atau malah menjadi timbulnya distres dengan kondisi paling parah adalah melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Kondisi ini yang harus di-highlight yang sebenarnya menjadi penyebab mengapa homoseksual banyak yang mengalami mental disorder, bukan karena orientasinya tetapi karena mereka harus menolak menjadi diri sendiri.

Ekspresi gender yang biasa kita klasifikasikan apakah dia feminin atau maskulin ternyata tidak hanya sampai di situ saja. Ada kondisi yang bisa kita sebut androgynous atau Bahasa Indonesianya androgini. Dia yang tidak bisa diklasifikasikan sebagai feminin ataupun maskulin. Dari sini dapat disimpulkan bahwa manusia pada dasarnya itu kompleks sejak dilahirkan. Dan meskipun ekspresi gender dan identitas gender ini dapat terlihat setelah masa pubertas, akan tetapi selalu ada kecenderungan dari awal dan menentukan orientasi dari anak tersebut.

Ketika umur 20 tahun, seorang anak biasanya sudah mengklaim dirinya apakah dia berorientasi homoseksual, biseksual, heteroseksual, atau bahkan aseksual. Kemudian dia akan semakin percaya diri untuk menunjukkan apakah dia feminin atau maskulin atau keduanya atau tidak keduanya. Dan ketika umur 30, dia sudah tahu identitas dirinya yang meskipun dia menutupinya dan berperilaku seperti cowok/cewek pada umumnya, akan selalu ada waktu dan kondisi dimana dia menjadi diri sendiri dan memperlihatkan diri sesuai identitasnya.

Itulah pentingnya pemahaman SOGIEB yang menurut saya perlu dikemas lebih baik lagi agar mereka lebih memahami identitasnya atau dapat menjawab pertanyaan “siapa dia.” Kedepannya, mungkin perlu dibuat sosialisasi yang interaktif untuk memastikan mereka paham akan apa itu gender dan orientasi. Astungkara.

***

Catatan Kaki

Admin. (2016). Seluk-beluk Orientasi Seksual LGBT (Bagian 1). Diakses dari https://www.kompasiana.com/ioanesrakhmat.blogspot.com/selukbeluk-orientasi-seksual-lgbt-bagian-1_57287b99ec9673971ea4bc44 pada tanggal 29 Desember 2017.

Anton, B. S. (2010). Proceedings of the American Psychological Association for the legislative year 2009: Minutes of the annual meeting of the Council of Representatives and minutes of the meetings of the Board of Directors. American Psychologist, 65, 385–475. DOI: 10.1037/a0019553.

***

Konten ini ditulis oleh Anton Alem R. Seorang pekerja di dunia perhotelan dan lulusan S-1 Manajemen Unair. Sosok yang suka akan dunia kuliner dan isu sosial terkait perkembangan diri anak, kesehatan mental, dan perekonomian co-operative. Secretary di GSHR Udayana dan Jaringan Rakyat Bhinneka.

Pengenalan atas Kasta: Sangkar Emas Perempuan Bali Dulu, Kini, dan Nanti

Pengenalan Atas Kasta: Sangkar Emas Perempuan Bali Dulu, Kini dan Nanti

Brenda Yanti | Dec 28, 2017 | Gender
Pada masyarakat Hindu di Bali, terjadi kesalahpahaman kasta di Bali dan kekaburan dalam pemahaman dan pemaknaan warna, kasta, dan wangsa yang berkepanjangan. Dalam agama Hindu tidak dikenal istilah kasta. Istilah yang termuat dalam kitab suci Veda adalah warna.

Kasta secara harfiah berarti sebuah pengelompokan dalam masyarakat berdasarkan perbedaan kelas kekayaan, hak, profesi, maupun kedudukan. Sedangkan asal kata kasta adalah “casta” yang dalam bahasa Portugis berarti kelas, ras keturunan, golongan, pemisah, tembok, atau batas. Penulis mungkin akan mendapat banyak respon setelah menulis mengenai penggolongan masyarakat Bali menggunakan kata “kasta”, namun meski kata ini seperti hal terlarang untuk mendefinisikan masyarakat Bali, tetap saja di luar sana kata ini sering kita temui dan lebih dikenal dibanding kata “wangsa” ataupun “warna”.

Jadi, timbulnya istilah kasta dalam masyarakat Hindu adalah karena adanya proses sosial (perkembangan masyarakat) yang mengaburkan pengertian warna. Pengaburan pengertian warna ini melahirkan tradisi kasta yang membagi tingkatan seseorang di masyarakat berdasarkan kelahiran dan status keluarganya. Istilah “kasta” tidak diatur di dalam kitab suci Weda. Kata “kasta” itu sendiri dalam bahasa Sanskerta berarti “kayu”.

Riwayat kasta di Bali dimulai ketika Bali dipenuhi dengan kerajaan-kerajaan kecil dan Belanda datang mempraktikkan politik pemecah belah, kasta dibuat dengan nama yang diambilkan dari ajaran Hindu, Catur Warna. Lama-lama orang Bali pun bingung, yang mana kasta dan yang mana ajaran Catur Warna. Kesalahpahaman itu terus berkembang karena memang sengaja dibuat rancu oleh mereka yang terlanjur “berkasta tinggi”.

Pada masyarakat Hindu di Bali, terjadi kesalahpahaman kasta di Bali dan kekaburan dalam pemahaman dan pemaknaan warna, kasta, dan wangsa yang berkepanjangan. Dalam agama Hindu tidak dikenal istilah kasta. Istilah yang termuat dalam kitab suci Veda adalah warna. Apabila kita mengacu pada Kitab Bhagavadgita, maka yang dimaksud dengan warna adalah Catur Warna, yakni pembagian masyarakat menurut Swadharma (profesi) masing-masing orang. Sementara itu, yang muncul dalam kehidupan masyarakat Bali adalah wangsa, yaitu sistem kekeluargaan yang diatur menurut garis keturunan. Wangsa tidak menunjukkan stratifikasi sosial yang sifatnya vertikal (dalam arti ada satu wangsa yang lebih tinggi dari wangsa yang lain). Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada warga masyarakat yang memiliki pandangan bahwa ada suatu wangsa yang dianggap lebih tinggi daripada wangsa yang lain. Untuk merubah pandangan seperti ini memang perlu sosialisasi dan penyamaan persepsi. Oleh karena itu, lebih baik tidak diperdebatkan lagi.

Yang menjadi persoalan, ketika kasta diperkenalkan di Bali di masa penjajahan itu, nama-nama yang dipakai adalah nama Catur Warna: Brahmana, Kesatria, Wesya, Sudra. Jadi, pada saat itu semua fungsi Catur Warna diambil alih oleh kasta, termasuk gelarnya.

Celakanya kemudian, gelar-gelar itu diwariskan turun temurun, diberikan kepada anak-anaknya tak peduli apakah anak itu menjalankan fungsi sosial yang sesuai dengan ajaran Catur Warna atau tidak. Contohnya, kalau orang tuanya bergelar Cokorda, jabatan raja untuk di daerah tertentu, anaknya kemudian otomatis diberi gelar Cokorda pada saat lahir. Kalau orangtuanya Anak Agung, juga jabatan raja untuk daerah tertentu, anaknya yang baru lahir pun disebut Anak Agung. Demikianlah bertahun-tahun, bahkan berganti abad, sehingga antara kasta dan ajaran Catur Warna ini menjadi kacau. Dalam pergaulan sehari-hari pun masyarakat yang berkasta sudra (jaba) berkedudukan sangat rendah. Seperti misalnya seorang yang berasal dari kasta sudra harus menggunakan Sor Singgih Basa, untuk menghormati kasta-kasta yang lebih tinggi.

Kasta itu dibuat dan dikemas sesuai dengan garis keturunan patrilineal, di antaranya: (1) kasta Brahmana merupakan kasta yang memiliki kedudukan tertinggi, dalam generasi kasta Brahmana ini biasanya akan selalu ada yang menjalankan kependetaan. Dalam pelaksanaannya seseorang yang berasal dari kasta Brahmana yang telah menjadi seorang pendeta akan memiliki sisya, dimana sisya-sisya inilah yang akan memperhatikan kesejahteraan dari pendeta tersebut, dan dalam pelaksanaan upacara-upacara keagamaan yang dilaksanakan oleh anggota sisya tersebut dan bersifat upacara besar akan selalu menghadirkan pendeta tersebut untuk muput upacara tersebut. Dari segi nama seseorang akan diketahui bahwa dia berasal dari golongan kasta Brahmana, biasanya seseorang yang berasal dari keturunan kasta Brahmana ini akan memiliki nama depan “Ida Bagus” untuk anak laki-laki, Ida Ayu untuk anak perempuan, ataupun hanya menggunakan kata Ida untuk anak laki-laki maupun perempuan. Sedangkan untuk sebutan tempat tinggalnya disebut dengan “Griya”; (2) kasta Ksatriya merupakan kasta yang memiliki posisi yang sangat penting dalam pemerintahan dan politik tradisional di Bali, karena orang-orang yang berasal dari kasta ini merupakan keturunan dari raja-raja di Bali pada zaman kerajaan. Namun sampai saat ini kekuatan hegemoninya masih cukup kuat, sehingga terkadang beberapa desa masih merasa abdi dari keturunan raja tersebut. Dari segi nama yang berasal dari keturunan kasta Ksatriya ini akan menggunakan nama “Anak Agung, Dewa Agung, Tjokorda, dan ada juga yang menggunakan nama Dewa”. Dan untuk nama tempat tinggalnya disebut dengan “puri”. Sedangkan masyarakat yang berasal dari keturunan abdi-abdi kepercayaan raja, prajurit utama kerajaan, namun terkadang ada juga yang merupakan keluarga puri yang ditempatkan di wilayah lain dan diposisikan agak rendah dari keturunan asalnya karena melakukan kesalahan sehingga statusnya diturunkan. Dari segi nama kasta ini menggunakan nama seperti I Gusti Agung, I Gusti Bagus, I Gusti Ayu, ataupun I Gusti. Dimana untuk penyebutan tempat tinggalnya disebut dengan “jero”; (3) kasta Sudra (jaba) merupakan kasta yang mayoritas di Bali, namun memiliki kedudukan sosial yang paling rendah, dimana masyarakat yang berasal dari kasta ini harus berbicara dengan Sor Singgih Basa dengan orang yang berasal dari kasta yang lebih tinggi atau yang disebut dengan Tri Wangsa-Brahmana, Ksatria dan Ksatria (yang dianggap Waisya). Sampai saat ini masyarakat yang berasal dari kasta ini masih menjadi parekan dari golongan Tri Wangsa. Dari segi nama warga masyarakat dari kasta Sudra akan menggunakan nama seperti berikut: Wayan, Made, Nyoman dan Ketut. Dan dalam penamaan rumah dari kasta ini disebut dengan “umah”.

Dari penjelasan di atas mungkin sudah banyak pembaca yang mengira kenapa penulis mengangkat kasta sebagai topik. Stratifikasi semacam kasta ini digolongkan sebagai tipe startifikasi tertutup dimana orang-orang hanya dapat berada dalam kelas tertentu lewat kelahiran ataupun pernikahan/perkawinan. Nah, menyinggung masalah perkawinan, kita sendiri mengetahui rijitnya upacara perkawinan di Bali dan kasta menjadi salah satu penyumbang ke-rijit-an tersebut. Sistem stratifikasi sosial itu membawa implikasi serius dalam hukum perkawinan adatnya. Kaum perempuan terutama menjadi sasaran tembak ketidakadilan. Perempuan Triwangsa (Brahmana, Ksatria, Waisya) tidak boleh kawin dengan lelaki wangsa Sudra. Perkawinan nyerod dinobatkan jika perempuan Triwangsa kawin dengan lelaki Sudra. Masyarakat adat Bali melukiskan perkawinan nyerod sebagai salah satu bentuk perkawinan beda kasta yang terlarang (dulu bahkan perkawinan nyerod merupakan pelanggaran hukum adat). Perkawinan nyerod dilakoni sementara warga Bali sejak zaman kerajaan. Bentuk perkawinan ini muncul dalam suasana mengerasnya sistem kasta tempo itu. Stratifikasi tradisional ini melarang praktik perkawinan nyerod. Perempuan berkasta dilarang keras berumah tangga dengan lelaki kastanya “lebih rendah” ataupun tidak berkasta. Perkawinan seperti ini sangat dihindari dan kalaupun terjadi biasanya dengan sistem ngemaling yaitu menikah dengan sembunyi-sembunyi. Karena perkawinan nyerod seperti ini biasanya tidak akan diizinkan oleh keluarga besar pihak perempuan. Oleh karena itu, ketika terjadi hubungan antara sepasang kekasih dengan kasta yang berbeda, tidak jarang akan mengalami kesulitan atau hambatan dalam memulai proses perkawinan.

Selain urusan kawin-mawin, kasta juga telah merasuki setiap segi kehidupan masyarakat Bali dan mengatur tindak-tanduk masyarakatnya. Hal-hal semacam ini meskipun telah melalui modernisasi namun tetap saja masih terdapat remahan-remahan yang dampaknya dapat kita lihat dari permasalahan sosio-kultural dan konon sistem ini pula lah yang menyebabkan banyak perempuan Bali serasa tinggal dalam sebuah sangkar emas yang disebut kasta.

***

Catatan Kaki

Ardiansyah, R. (2015). Kasta dalam Agama Hindu. Diakses dari www.idsejarah.net/2015/12/kasta-dalam-agama-hindu.html pada tanggal 27 Desember 2017.

Pendit, Nyoman S. (1995). Hindu dalam Tafsir Modern. Denpasar: Yayasan Dharma Naradha.

Team Balipedia. (2015). A Look into the Balinese Caste System. Diakses dari https://balipedia.com/articles/a-look-into-the-balinese-caste-system pada tanggal 27 Desember 2017.

***

Konten ini ditulis oleh Brenda Yanti. Seorang mahasiswa yang sedang menekuni bidang ilmu sosial humaniora melalui kacamata Sosiologi. Mengguggat belenggu atas sistem sosial yang mengikat. Penikmat kecemasan dan pencari kebebasan. Dapat disapa melalui beberapa jejaring sosial seperti Instagram dan Facebook.