Menilik Proses Penerimaan Identitas Diri

December 29, 2017

Menilik Proses Penerimaan Identitas Diri

Dunia semakin berkembang dan penemuan yang dilakukan oleh manusia juga semakin bervariatif. Begitu pula dengan cara berpikir manusia yang menurut beberapa ahli, dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Akan tetapi tidak 100% semua karena lingkungannya mendukung untuk berpikir kritis, maka dia akan berpikir kritis. Begitu sebaliknya. Ada kondisi khusus atau yang biasa disebut anomali terjadi. Se-tidak-mendukung kondisi suatu manusia, ternyata adapula yang bisa berpikir kritis seperti halnya dengan yang lain. Hal ini menjadi sebuah patokan pula dalam penelitian ketika merumuskan batasan penelitian atau area penelitian yang diinginkan. Dan muncullah beragam teori dan analisis. Dari situ diperlukannya asosiasi atau organisasi yang merupakan gabungan dari peneliti seluruh dunia di bidang spesifik dibutuhkan.

Dalam tulisan ini, penulis akan membahas bagaimana proses seseorang menerima gender dan ekspresi mereka. Untuk definisi apa itu gender dan ekspresi, kalian dapat menemukannya di online search engine (namun sebaiknya carilah dari jurnal akademik untuk menghindari logical fallacy).

SOGIEB, sebuah akronim yang selalu dikumandangkan di puskesmas dewasa ini. Tetapi tidak semua orang paham bahwa hal itu ditujukan untuk membebaskan mereka dalam berekspresi dan memahami diri sendiri. Dengan adanya banyak sosialisasi SOGIEB ke beberapa tempat, diharapkan anak semakin bisa menerima segala perbedaan yang ada di dalam dirinya–yang walaupun sering dijadikan ajang untuk dokter-dokter menjelaskan bahwa penyuka sesama itu sangat berisiko menulari beragam penyakit tanpa diberi data lengkap dan malah menggiring ke arah yang salah.

Jenis kelamin (sex) yang merupakan bagian pertama yang biasanya lebih mudah untuk diterima karena sex sudah terbentuk sejak lahir dan terlihat dengan jelas–apakah dia laki-laki, perempuan, atau intersex. Yang susah adalah mengenai intersex. Kebanyakan orang tua akan memilih untuk apakah memutus penisnya atau menutup vaginanya dari si bayi agar jenis kelamin (sex) bayi tersebut jelas. Akan tetapi, ini justru membuat banyak anak yang lahir karena intersex sewaktu bayi dan orang tuanya yang menentukan jenis kelamin mereka, maka mereka sering merasa tidak sesuai dengan alat kelamin yang dimilikinya. Terjadilah krisis identitas dini. Lebih parah lagi, bila orang tua memilih anaknya menjadi laki-laki, dan ternyata ketika anak tersebut balita, alat kelaminnya tidak berkembang sempurna. Atau sebaliknya, bila orang tua memilih anaknya menjadi perempuan, ternyata anak tersebut merasa ada yang hilang dalam dirinya dan dia merasa laki-laki dan bukan perempuan.

Pada dasarnya ekspresi, identitas, dan orientasi gender terkadang tak bisa diterima secara bersamaan ataupun terpisah. Setelah anak mulai memahami dirinya secara fisik, maka mulailah dia menunjukkan identitas dirinya dalam sebuah perilaku, kesukaan terhadap orang lain (antara lawan jenis atau sesama jenis) walau hanya sebatas suka yang biasa orang sebut cinta monyet. Pasti hampir semua anak yang lahir pada tahun 90-an pernah merasakan cinta-cintaan ala masa SD. Karena seringnya anak mulai mempunyai sense of interest yang berbeda dibandingkan orang lain, orang tua sering melakukan pemaksaan untuk membuat anaknya dapat berperilaku dan berpakaian seperti anak pada umumnya. Kondisi seperti ini yang menjadikan anak kebingungan dan sering mempertanyakan pertanyaan “mengapa”.

Seiring berjalannya waktu, masa SMP dan SMA ada masa dimana anak mulai memperhatikan atau belajar dari sumber lain selain guru dan orang tuanya untuk menjawab pertanyaan “mengapa” mereka. Pertanyaan tersebut seperti “Mengapa aku suka permainan yang biasanya cewek lakukan?”, “Mengapa aku dilarang melakukan itu?”, “Mengapa cewek bermain ini dan cowok bermain itu dan tidak bisa bermain bersama?”, “Tetapi mengapa ada yang bermain bersama tanpa peduli orang lain?”, dan beragam pertanyaan lain seputar permainan, pakaian, dan idola masing-masing.

Bila anak tersebut mendapat akses atau berusaha sendiri untuk mencari tahu dengan benar mengenai orientasi gender dan identitas gender, maka anak tersebut mungkin bisa melakukan penerimaan diri atau yang biasa kita sebut coming in lebih awal. Akan tetapi bagi yang masih belum mendapat akses dengan mudah mengenai hal tersebut karena faktor lingkungannya atau doktrin yang dilakukan di rumah dan sekolah, bisa jadi dia akan berusaha memaksakan diri untuk sama seperti yang lain dan bila perlu ikut bullying teman yang berbeda dengan cowok atau cewek pada umumnya. Tidak menutup kemungkinan sexual harassment pun terjadi.

American Psychological Association (APA) sudah menyebutkan homoseksualitas dicabut dari Manual Statistik dan Diagnostik Penyakit Mental (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder atau DSM) sejak 1973 dan bahkan di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) PBB pada 17 Mei 1990 juga mengambil keputusan yang sama. Akan tetapi sepertinya banyak yang menolak hal tersebut walau sudah ada bukti penelitian yang jelas dan diakui oleh seluruh dunia bahwa homoseksualitas bukan berasal dari pengaruh sosial atau lingkungan sosial yang terbentuk ketika remaja. Hal ini mempengaruhi tindakan terapi perubahan orientasi seksual yang biasa kita sebut terapi konversi atau menurut APA disebut sebagai sexual orientation change efforts (SOCE). Di dalam penjelasan rangkuman penelitian (research summary) oleh Anton (2010), terdapat keterangan bahwa Belief in the hope of sexual orientation change followed by the failure of the treatment was identified as a significant cause of distress and negative self-image (Beckstead & Morrow, 2004; Shidlo & Schroeder, 2002). Di sini dijelaskan bahwa merubah orientasi seksual dapat menyebabkan distres dan menganggap diri sendiri selalu negatif. Distress adalah sebuah hasil dari stres yang hasilnya negatif atau dia mengalami tertekan terhadap kondisi yang harus dia hadapi dan lakukan. Apalagi distres yang dia hadapi terjadi di hampir setiap waktu dan setiap tempat mengingat dia harus act like straight di depan orang lain.

Masa-masa pubertas adalah masa-masa puncak timbulnya beragam penolakan terhadap stereotip mengenai apa yang harus dilakukan oleh laki-laki/perempuan atau malah menjadi timbulnya distres dengan kondisi paling parah adalah melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Kondisi ini yang harus di-highlight yang sebenarnya menjadi penyebab mengapa homoseksual banyak yang mengalami mental disorder, bukan karena orientasinya tetapi karena mereka harus menolak menjadi diri sendiri.

Ekspresi gender yang biasa kita klasifikasikan apakah dia feminin atau maskulin ternyata tidak hanya sampai di situ saja. Ada kondisi yang bisa kita sebut androgynous atau Bahasa Indonesianya androgini. Dia yang tidak bisa diklasifikasikan sebagai feminin ataupun maskulin. Dari sini dapat disimpulkan bahwa manusia pada dasarnya itu kompleks sejak dilahirkan. Dan meskipun ekspresi gender dan identitas gender ini dapat terlihat setelah masa pubertas, akan tetapi selalu ada kecenderungan dari awal dan menentukan orientasi dari anak tersebut.

Ketika umur 20 tahun, seorang anak biasanya sudah mengklaim dirinya apakah dia berorientasi homoseksual, biseksual, heteroseksual, atau bahkan aseksual. Kemudian dia akan semakin percaya diri untuk menunjukkan apakah dia feminin atau maskulin atau keduanya atau tidak keduanya. Dan ketika umur 30, dia sudah tahu identitas dirinya yang meskipun dia menutupinya dan berperilaku seperti cowok/cewek pada umumnya, akan selalu ada waktu dan kondisi dimana dia menjadi diri sendiri dan memperlihatkan diri sesuai identitasnya.

Itulah pentingnya pemahaman SOGIEB yang menurut saya perlu dikemas lebih baik lagi agar mereka lebih memahami identitasnya atau dapat menjawab pertanyaan “siapa dia.” Kedepannya, mungkin perlu dibuat sosialisasi yang interaktif untuk memastikan mereka paham akan apa itu gender dan orientasi. Astungkara.

***

Catatan Kaki

Admin. (2016). Seluk-beluk Orientasi Seksual LGBT (Bagian 1). Diakses dari https://www.kompasiana.com/ioanesrakhmat.blogspot.com/selukbeluk-orientasi-seksual-lgbt-bagian-1_57287b99ec9673971ea4bc44 pada tanggal 29 Desember 2017.

Anton, B. S. (2010). Proceedings of the American Psychological Association for the legislative year 2009: Minutes of the annual meeting of the Council of Representatives and minutes of the meetings of the Board of Directors. American Psychologist, 65, 385–475. DOI: 10.1037/a0019553.

***

Konten ini ditulis oleh Anton Alem R. Seorang pekerja di dunia perhotelan dan lulusan S-1 Manajemen Unair. Sosok yang suka akan dunia kuliner dan isu sosial terkait perkembangan diri anak, kesehatan mental, dan perekonomian co-operative. Secretary di GSHR Udayana dan Jaringan Rakyat Bhinneka.

What do you think about the article?