Masih Sucikah?

December 27, 2017

Masih Sucikah?

“Tahu nggak, aku sudah melakukan hubungan seksual dengan si A. Mantap rasanya!”

“Ciuman bibir sama si B ternyata begitu rasanya.”

“Bagaimana rasanya ciuman dengan dia? Enak ya?”

Gurauan-gurauan seperti itu masih saja terdengar di telinga kita semua, terutama pada pelajar SMA yang sedang mengalami masa pubertas. Berdasarkan hasil pengamatan, rasa keingintahuan terhadap hal itu dapat merangsang sensualitas secara cepat karena didukung oleh hormon yang labil. Dari beberapa gurauan yang dipaparkan di atas, setiap grup diskusi akan berinti pada pertanyaan seperti ini, “Kamu pasti sudah tidak perawan/perjaka lagi, ya?”

Diumpamakan seperti rubik yang berwarna-warni di setiap sisinya, kita tidak bisa mengungkapkan kalau rubik itu berwarna hijau yang jika kita lihat dari sisi kiri, namun warna merah dari sisi kanan, atau mungkin saja warna kuning dari sisi atas, dan warna putih di sisi depan. Semua warna itu memang benar warna-warna dari rubik tersebut, jadi kita tidak bisa menyatakan bahwa itu hanya memiliki satu warna saja. Dengan kata lain, rubik tersebut berwarna-warni. Hal ini berlaku sama pada pengertian “keperawanan dan keperjakaan”. Ada banyak persepsi mengenai kedua sebutan tersebut dari sisi pandang berbagai bidang ilmu, semuanya pun tidak dapat kita bantah. Intinya kedua hal itu akan selalu kembali pada “itulah perjaka dan perawan”.

Definisi perjaka dan perawan pada mulanya diidentikkan dengan hubungan seksualitas dari suatu pasangan, dari gender yang berbeda ataupun sama, secara oral (bercumbu), vaginal, maupun anal. Ketika suatu pasangan melakukan kedua jenis aktivitas seksual tersebut, mereka akan dianggap sudah kehilangan “kesucian diri” di lingkungan masyarakat. Ini pernyataan yang semu. Bagaimana dengan kasih sayang seorang ibu kepada bayi laki-lakinya dengan memberikan sebuah cumbuan? Apakah itu artinya kesucian bayi tersebut ikut hilang juga? Lalu dengan si ibu yang sudah berhubungan badan dengan ayah si bayi, apakah dia artinya berganti pasangan untuk melakukan seksualitas dan menambah dosa karena kehilangan kesuciannya?

Secara biologis, cumbuan dari ibu dan anak tadi bisa disanggah kebenarannya, padahal dari pengertian seksualitas yang awalnya telah disebutkan, mereka sedang melakukan seksualitas. Makna seksualitas sebetulnya masih dianggap rancu oleh masyarakat dan mirisnya masyarakat cepat menstigmatisasi seksualitas dengan negatif setelah mengetahui pengertian seksualitas di atas dan belum benar-benar membuka sudut pandangnya pada kejadian sekitarnya yang mungkin berhubungan dengan seksualitas. Apakah hal tersebut akan dianggap negatif juga oleh masyarakat?

Robeknya selaput dara pada wanita dan berubahnya bentuk maupun warna kelamin laki-laki adalah tinjauan biologis dari perawan dan perjaka. Jika memang keperawanan/keperjakaan akan hilang, bagaimana dengan seorang atlet renang perempuan yang menggunakan tampon di saat kejuaraan, seseorang bersepeda dan mendapat dorongan dari jok sepeda ke bagian kelaminnya, atau seorang model pakaian ketat yang mengalami lecet dan berubahnya warna kelamin karena kulit kelaminnya sensitif terhadap pakaian ketat? Apa artinya mereka sudah tidak perawan atau perjaka lagi? Jika kita ingin mencari lebih lanjut mengenai keperawanan dan keperjakaan dengan berselancar di pencarian dunia maya, maka akan ada banyak sekali konten-konten tentang “beberapa hal untuk menilai orang tersebut sudah tidak perawan dan perjaka” yang di antaranya yaitu robeknya selaput dara ataupun berubahnya warna kelamin dan lainnya. Di sana banyak jawaban atas pertanyaan yang timbul terkait dengan keperawanan dan keperjakaan, yang kemudian bagi orang-orang yang percaya tanpa menelaahnya terlebih dahulu akan menyalahkan dirinya sendiri karena sudah tidak suci lagi secara agama.

Masuk ke tinjauan agamais sebagai tinjauan terakhir bahasan ini, jika seseorang telah melakukan perbuatan zina atau berhubungan tubuh maka ia sudah dianggap tidak suci lagi di mata Tuhan dan secara kodrati manusia. Hal ini tidak bisa disalahkan, namun ada baiknya sebagai warga di negara yang beragama dan menjunjung tinggi nilai Ketuhanan dalam berperilaku di kehidupan sehari sehari, dapat membuka cakrawala pandangan yang tidak hanya terpaku pada konsep agama itu saja, namun pada persepsi keagamaan diri sendiri, terutama akal logika yang sudah diciptakan oleh Tuhan pada kita. Bagaimana dengan Siddhartama Gautama yang dulu merupakan seorang Pangeran yang menikahi seorang Putri Kerajaan tetangga dan memiliki satu anak yang akhirnya menjadi seorang Buddha, orang suci yang sangat dihormati oleh umat manusia karena menyebarkan dharma kebaikan? Lalu, Bunda Maria yang dianugerahkan Putra Allah bernama Yesus dengan dilahirkan melalui rahimnya. Apakah artinya Bunda Maria tidak suci lagi? Padahal Ia yang melahirkan juru selamat umat manusia. Masihkah masyarakat menganggap seksualitas tersebut negatif? Kehilangan perawan dan perjaka sudah tidak suci lagi?

Pendeta, Biksu, Pastor, Ustaz atau sebutan orang suci yang mengorbankan seluruh hidupnya dalam kehidupan beragama, mereka juga sebelumnya adalah seseorang seperti kita yang mempunyai anak, keluarga dan beraktivitas seperti kita. Apakah kita akan menganggap bahwa mereka tidak suci lagi? Apakah kita akan tetap menyimak pencerahan dari mereka? Seseorang yang suci sesungguhnya bukan dari hubungan badan mereka, tetapi dari perbuatannya yang selalu baik dan benar.

Sesungguhnya, seksualitas bukan hal yang bisa kita salahkan maupun kita benarkan. Setiap insan manusia pasti mempunyai rangsangan seksual dalam diri mereka untuk melanjutkan keturunan jenisnya sebagai manusia, seperti makhluk hidup lainnya. Sama halnya dengan sebutan perawan atau perjaka tersebut, ada lebih banyak lagi pandangan-pandangan mengenai kedua hal ini selain yang telah dinyatakan di atas.

Kita tidak bisa membenarkan bahwa tinjauan agamais itu benar dan yang tinjauan sosial tersebut salah. Semua hal di sekitar manusia pasti ada benar dan salahnya, seperti memotong hewan ternak untuk dikonsumsi. Harfiahnya, hewan ternak memang sepatutnya dikonsumsi untuk memenuhi gizi manusia, namun bagaimana dengan para vegetarian? Mereka akan menganggap bahwa kita telah menyakiti hewan dan menghilangkan haknya untuk hidup. Di atas coretan halus sebuah ajaran agama pun sepatutnya kita telaah terlebih dahulu, apakah itu sesuai dengan visi dan misi kita sebagai manusia yang beriman, berkodrat, serta selalu di jalan yang benar? Perkataan seorang dokter maupun profesor dengan gelar pendidikan tertinggi pun tidak juga bisa kita benarkan, apalagi norma, kebiasaan ataupun adat istiadat di masyarakat selama beratus-ratus tahun telah dilakukan. Maka, semua itu sebaiknya kembali lagi ke individu itu sendiri: “pandangan manakah yang mau kamu percaya?” Setiap individu layaknya lebih membuka mata pandangnya dan tidak bisa bertahan dalam egoisme dengan kepercayaannya sendiri, seperti perumpamaan rubik yang dinyatakan sebelumnya.

Sudah ditetapkan dalam ajaran agama dan undang-undang dasar negara kita, selayaknya menghormati dan menghargai sesama, terlebih lagi menghormati diri dalam seksualitas kita, dipergunakan dengan baik dan di tempat yang semestinya, bukan di sebuah tempat publik, apalagi menjadi gurauan atau ejekan di sekolah. Itulah mengapa dibuatlah etika, dengan maksud menjaga barang diri dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pemerkosaan. Masyarakat sekitar akan menilai esensi nilai kita dalam berbicara mengenai dua sebutan kesucian manusia ini, bukankah seharusnya kita tidak membicarakan kejelekan diri dan menghormati perawan atau perjaka itu sebagai bagian dari kita? Masyarakat tidak perlu menilai seberapa sucikah kita, namun yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menjadi insan yang berguna bagi sesama.

Jika memang seksualitas telah terjadi di luar status “menikah,” apakah pasangan tersebut siap mempertanggung jawabkan kehormatan mereka di masyarakat? Kalau iya, tetaplah berkarya sebagai manusia yang memiliki akal logika yang sehat dan kreatif. Kalau tidak? Terpuruklah dalam pertanyaan “Masih sucikah kamu?”

***

Konten ini ditulis oleh Indira Shinta Pradnyani. Ia merupakan seorang pelajar kritis yang menyukai es krim. Kini ia sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi SBMPTN.

What do you think about the article?